10 Tokoh Pejuang Riau Terima Penghargaan di Milad Ke-69 Provinsi Riau
Perwakilan keluarga tokoh pejuang yang menerima penghargaan foto bersama.
RIAUEDUKASI.COM, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau memberikan penghargaan istimewa kepada sepuluh tokoh pejuang daerah sehubungan dengan Milad Ke-69 tahun Provinsi Riau. Penyerahan penghargaan berlangsung dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Riau yang digelar pada Ahad (9/8/2026) petang.
Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi mendalam dan penghormatan tertinggi atas jasa, pengorbanan, serta perjuangan para tokoh yang telah berkontribusi besar bagi kemerdekaan, pengembangan agama, pendidikan, hingga kemajuan masyarakat di seantero Bumi Lancang Kuning. Mengingat kesepuluh tokoh tersebut telah berpulang ke rahmatullah, penghargaan diserahkan langsung kepada ahli waris masing-masing.
Sepuluh tokoh yang dianugerahi penghargaan memiliki latar belakang perjuangan yang beragam. Namun memiliki tekad yang sama untuk memajukan tanah air dan daerah kelahirannya.
Mereka adalah, Abdullah Nur, ulama, pejuang dan politisi yang berkiprah luas di bidang dakwah dan kemasyarakatan di Bengkalis; H. Ahmad Maulana, pejuang kemerdekaan yang kemudian berbakti di jajaran TNI dan turut mengibarkan bendera Merah Putih di Bengkalis.
Berikutnya, Tuan Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi dan Tuan Syekh Usman Bin Syekh H. Imam Sabar Al-Kholidi Naqsyabandi, keduanya dikenal luas sebagai tokoh agama dan pelopor pendidikan di Mandau, Bengkalis.
Selanjutnya Sinmardi Taman alias Pek Sing Tjong, pejuang yang bergerak di bidang logistik perjuangan hingga ke Singapura serta turut dalam pemberantasan pemberontakan G30S/PKI; Syed Zein Al-Jufri bergelar T. Pangeran Kesuma Dilaga, panglima perang sekaligus diplomat ulung asal Siak.
Ada pula, H. Abdul Razak Ardi, pejuang kemerdekaan yang menempuh perjalanan berani menyusuri Sungai Indragiri di Rengat; Abdul Manaf Bin Taher, pejuang asal Indragiri Hilir yang turut mengibarkan bendera Merah Putih di wilayah Kepulauan Riau dan Indragiri Hilir.
Kemudian, H. Amir Hoesin Attan, pejuang yang juga berkontribusi besar di bidang pendidikan dan agama; serta Tengku Mansyur Chalid, pejuang kemerdekaan sekaligus pelopor pendidikan di daerahnya.
Dalam prosesi penyerahan yang berlangsung khidmat tersebut, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto didampingi Ketua DPRD Riau Kaderismanto menyerahkan sertifikat penghargaan serta sagi hati kepada para ahli waris.
Pemberian penghargaan ini diharapkan dapat menjadi momentum agar generasi muda senantiasa mengenang jasa para pendahulu. Serta melanjutkan tongkat estafet pembangunan demi mewujudkan Riau yang maju, beradab, dan sejahtera.
Kisah Abdul Razak Ardi
Penghargaan untuk Abdul Razak Ardi diterima oleh salah seorang ahli waris, Drs Pahmijan MPd, mantan ASN Pemprov Riau. Saat ini Pahmijan merupakan Ketua Kerukunan Keluarga Banjar Riau (KKBR).
Salah satu kisah yang melekat pada sosok Abdul Razak Ardi adalah keberhasilannya meloloskan diri dari kejaran dengan menyusuri Sungai Indragiri di Rengat. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari jejak perjuangannya yang perlu diwariskan kepada keluarga dan masyarakat hingga kini.
Abdul Razak Ardi wafat pada 23 Maret 1991, bertepatan dengan 7 Ramadan 1411 Hijriah. Meski telah puluhan tahun meninggalkan dunia, jejak perjuangannya tetap dikenang, terutama oleh keluarga besar dan masyarakat Banjar di Riau.
"Alhamdulillah, ini tentu kehormatan bagi keluarga Abdul Razak Ardi. Melalui momen HUT Riau ini merupakan kado istimewa atas jasa dan pengabdian almarhum," kata Pahmijan.
Abdul Razak Ardi meninggalkan tujuh putra-putri, yakni Marsma (Purn) TNI AU H. Burhanuddin Razak (alm), Dr. Hj. Raihana Ara, Drs. H. Rizwar Razak (alm), Ir. Suhita Razak (alm), Syafrizal Razak SH, H. Pebrialin Razak SE MSi, serta Linda Laila SH (alm).***










