Mukidi Belajar Berpikir Miring
Oleh Sudarsono Soedomo
Guru Besar bidang Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB)
Karena itu, hidup memerlukan keduanya. Berpikirlah vertikal ketika menghitung. Berpikirlah lateral ketika buntu.
DI KAMPUNG kami ada pelatihan berpikir. Pesertanya beragam: guru, pegawai, mahasiswa, pensiunan, dan tentu saja Mukidi.
Pemateri membuka acara dengan pertanyaan sederhana. "Kalau ingin sampai ke puncak gunung, apa yang harus dilakukan?"
Semua peserta menjawab serempak. "Naik!" Pemateri tersenyum. "Luar biasa. Itu namanya berpikir vertikal."
Mukidi mengangkat tangan. "Kalau saya, Pak, saya tunggu saja gunungnya meletus. Nanti puncaknya turun sendiri."
Ruangan hening. Pemateri menatap Mukidi cukup lama, lalu berkata pelan, "Itu bukan vertikal. Itu juga bukan lateral. Itu namanya optimisme vulkanik.." Begitulah nasib orang yang sedang belajar berpikir.
Di sinilah, tanpa sadar, Mukidi sedang berhadapan dengan dua konsep psikologi berat dari seorang ahli pikir asal Malta bernama Edward de Bono: Berpikir Vertikal dan Berpikir Lateral.
Berpikir vertikal adalah cara berpikir yang sangat sopan. Langkahnya tertib. Premis pertama, premis kedua, kesimpulan.
Satu tambah satu menjadi dua. Tidak pernah tiba-tiba menjadi ikan lele. Cara berpikir ini sangat diperlukan. Dokter tidak boleh berpikir lateral saat menghitung dosis obat. Insinyur tidak boleh kreatif saat menghitung kekuatan jembatan. Pilot juga sebaiknya tidak berkata, "Hari ini saya ingin mencoba gravitasi versi baru."
Tetapi hidup ternyata tidak seluruhnya berupa soal pilihan ganda. Kadang masalah tidak selesai karena kita terlalu rajin mengikuti rel.
Misalnya, seseorang mengeluh jalan kota macet. Pemikir vertikal berkata, "Lebarkan jalan." Lima tahun kemudian jalan sudah lebar. Macetnya ikut membesar.
Pemikir lateral bertanya, "Mengapa semua orang harus lewat jalan itu pada jam yang sama?" Pertanyaannya berbeda.
Solusinya juga berubah: jam kerja fleksibel, transportasi umum, bekerja dari rumah, atau memindahkan pusat kegiatan. Bukan jalannya yang diobati, tetapi perilaku penggunanya.
Mukidi mulai memahami. Suatu hari istrinya berkata, "Kita harus menghemat listrik." Mukidi langsung mematikan televisi, lampu, kipas angin, kulkas, bahkan Wi-Fi.
Istrinya marah. "Itu namanya pelit, bukan hemat."
Mukidi berpikir lagi. Besoknya ia mengundang tetangga menonton televisi di rumah. "Semakin banyak yang menonton satu televisi, semakin hemat listrik per orang."
Secara matematika ada benarnya. Secara sosial, istrinya hampir mengusir Mukidi.
Di sinilah kita belajar bahwa berpikir lateral bukan berarti berpikir asal berbeda. Lateral tetap harus berteman dengan akal sehat.
Contoh lain lebih menarik. Seorang petani mengeluh buah mangganya selalu dicuri. Berpikir vertikal menyarankan pagar lebih tinggi, kamera, penjaga, bahkan alarm.
Mukidi berkata, "Tempel saja tulisan: 'Pohon ini sedang diamati mahasiswa S-3. Semua buah sudah diberi nomor.'"
Aneh. Malam itu pencuri tidak datang. Mereka takut buah mangga itu sedang menjadi data penelitian. Mencuri mangga lebih mudah daripada mengisi kuesioner.
Dalam dunia akademik, berpikir vertikal membuat kita pandai menjawab pertanyaan. Berpikir lateral membuat kita berani mempertanyakan pertanyaannya.
Kalau ada mahasiswa bertanya, "Bagaimana meningkatkan hasil ujian?" Jawaban vertikal: belajar lebih giat. Jawaban lateral: mengapa ujian hanya mengukur kemampuan menghafal?
Kalau pemerintah bertanya, "Bagaimana meningkatkan penerimaan negara?" Jawaban vertikal mungkin menaikkan tarif. Jawaban lateral bertanya, "Mengapa basis ekonominya tidak diperbesar sehingga tarif tidak perlu dinaikkan?"
Pertanyaan yang berbeda sering kali menghasilkan masa depan yang berbeda.
Namun Mukidi akhirnya menemukan pelajaran paling penting. Orang yang hanya berpikir vertikal sering merasa semua jawaban sudah tersedia. Orang yang hanya berpikir lateral kadang merasa semua jawaban lama pasti salah.
Keduanya sama-sama berbahaya. Yang pertama dapat berubah menjadi birokrat yang mencintai prosedur melebihi tujuan. Yang kedua dapat berubah menjadi penemu teori yang bahkan keluarganya sendiri tidak percaya.
Karena itu, hidup memerlukan keduanya. Berpikirlah vertikal ketika menghitung. Berpikirlah lateral ketika buntu.
Dan berpikirlah diam ketika istri bertanya, "Menurutmu aku tambah gemuk, ya?"
Dalam persoalan terakhir itu, sejarah membuktikan bahwa logika vertikal maupun lateral sama-sama tidak cukup. Yang diperlukan hanyalah kebijaksanaan, senyum tipis, lalu segera menawarkan diri membuatkan teh.
Selamat menikmati akhir pekan. Semoga pertandingan perebutan juara ketiga nanti memperlihatkan perpaduan yang indah antara strategi vertikal pelatih dan umpan lateral para pemain. Jangan-jangan gelar pemain terbaik justru lahir dari seseorang yang berani berpikir sedikit miring, tetapi tetap menendang lurus ke gawang.***
(Bogor, 18072026)









