TAHUN ISLAM 1448 H

Pernyataan Pers Rida K Liamsi, Mantan Chairman RPG dan Tokoh Masyarakat Riau Kepri

Merasa Dizalimi Oleh Perusahaan Media yang Dibesarkannya, “Mereka Semena-mena”

Serba Serbi Rabu, 01 Juli 2026 - 16:59 WIB
Merasa Dizalimi Oleh Perusahaan Media yang Dibesarkannya, “Mereka Semena-mena”

Rida K Liamsi berbicara kepada sejumlah wartawan.

RIAUEDUKASI.COM, PEKANBARU – Rida K Liamsi akhirnya membuat pernyataan pers terkait kasus hukum yang sedang mendera. Ini dilakukan mantan Chairman Riau Pos Group tersebut karena merasa dizalimi oleh perusahaan media yang dahulu dia lahir dan besarkan dengan “berdarah-darah”.

Curhat disampaikan tokoh pers sekaligus tokoh masyarakat Riau dan Kepri tersebut dalam satu perjumpaan bersama sejumlah wartawan di salah satu rumah makan di Kota Bertuah.

Mengawali kisahnya, sosok budayawan dan mantan guru tersebut, mengajak hadirin mengenang dan mendoakan almarhum Zulmansyah Sekedang. Sambil terisak dengan suara yang parau, diakuinya almarhum salah satu yang ikut membesarkan Riau Pos Group. Sekaligus termasuk pihak yang dizalimi.

Kegundahan hati tersebut juga disampaikan dalam satu rilisnya. Ditulis dalam bentuk bertutur. Berikut bunyi pernyataan tersebut:

BANNER SPMB SD BABUSSALAM

Saya telah dizalimi oleh Riau Pos (PT Riau Pos Intermedia Pers) perusahaan yang saya dirikan bersama teman-teman tahun 1991 dengan keringat dan air mata. Dari perusahaan yang mulanya nyaris tak punya modal sepeserpun menjadi  perusahaan dengan group bisnis  (Riau Pos Group) yang punya usaha ada di semua provinsi di Sumatera bagian utara; di Riau, Sumbar, Sumut dan Aceh.

Dari perusahaan yang hanya mengelola sebuah surat kabar mingguan,  merambah ke usaha percetakan, TV dan properti (gedung perkantoran). Dari asset hanya sekitar 400  juta berupa mesin cetak, sampai  tahun 2016 hampir mencapai asset 1 triliun.

Memiliki dua gedung perkantoran 9 lantai dan gedung kantor anak-anak perusahaan di semua daerah tempat usaha. Riau Pos group menjadi grup usaha media yang terbaik dan terbesar di lingkungan Jawa Pos Group.

Tetapi, pihak manajemen dan pemegang saham utama Riau Pos sekarang ini memandang sebelah mata dan tidak menghargai sedikitpun jerih payah para pendiri. Termasuk saya, (almarhum) Zulmansyah, dll yang sudah jatuh bangun membangun grup Riau Pos.

Pemegang saham utama,  PT Jawa Pos melalui anak perusahaannya PT. JJMN (Jawa Pos Jaringan Media Nusantara) sebagai pemegang saham mayoritas telah  berlaku zalim dan semena-mena terhadap saya dan teman-teman dengan berbagai cara dan telah  mengkriminalisasi kami.

Padahal mereka belumlah menjadi  pemegang saham sebenarnya karena belum  menyetor kewajiban setoran saham mereka. Mereka hanya  punya akte notaris kepemilikan saham yang dibuat  untuk kepentingan operasional perusahaan, tapi mereka telah bertindak seolah-olah merekalah pemilik perusahaan. Menjalankan tirani mayoritas dan mengabaikan para pemegang saham yang lain.

Mereka dengan berbagai trik dengan  mudah menguasai asset perusahaan seperti Gedung Graha Pena 9 lantai  di Pekanbaru dan Batam dengan harga murah. Gedung Graha Pena Batam yang kami dirikan dengan susah payah dan dengan dukungan lahan dari BP Batam yang nilai pasarnya 200 miliar hanya mereka akuisi dengan harga 80 miliar.

Gedung Graha Pena Pekanbaru yang  nilai pasarnya sekitar 150 miliar, mereka kuasai dengan membayar hanya 60 miliar. Itu pun sebahagian besar hasil akuisisi itu kembali ke kantong mereka sebagai pemegang saham utama di anak perusahaan yang mengelolah asset tersebut.

Demikian dengan asset lainnya yang dikuasai mereka dengan berbagai cara. Pihak partner lokal, seperti perusahaan milik karyawan (Riau Pos Multi Karya  dan Batam Pos Multi Karya) tidak berdaya dan di-fait accompli-kan.

Sekarang ini selain mengkriminalisasi para pendirinya, seperti saya, Zulmansyah , Sutrianto, Makmur Kasim dan Asnida Syukur, juga merumahkan dan mempensiun muda sejumlah karyawan, yang hak-hak mereka hanya dicicil dan  bahkan belum seluruhnya diselesaikan.

PT Riau Pos  telah bertindak semena-mena karena kini sudah terancam bangkrut. Nilai  sahamnya per lembar  tak sampai 1 rupiah. Harian Riau Pos yang dulu  membangun gedung untuk tempat mereka berkantor kini terusir dan hanya menempati bangunan lama.

Harian Batam Pos yang membangun gedung dan dulu berkantor di situ, kini sudah  pindah ke ruko. Pihak Jawa  Pos melalui JJMN dan  anak perusahaannya setelah menguasai asset-aset utama itu, kemudian  menyingkirkan perusahaan yang dulu  bersusah payah membangun gedung-gedung, ke luar gedung kebanggaan mereka itu dan disingkirkan  dengan berbagai dalih.

Dulu mereka berjanji untuk ikut membangun Riau dan tempat usaha mereka, tapi sekarang, di bawah manajemen yang baru ini, mereka melupakan sejarah bagaimana group ini dibangun dan pengorbanan para pendiri dan karyawannya, dan mereka telah menguasai  semua asset .

Mereka tidak menghargai sama sekali dukungan masyarakat terutama para tokoh masyarakat di Pekanbaru ketika Riau Pos  group mulai didirikan, hubungan kemitraan yang dilakukan dulu  termasuk dengan  pemerintah daerah Riau waktu mereka mulai  datang dan berinvestasi di Riau.

Manajemen Jawa Pos Group sekarang melalui  anak-anak perusahaannya, seperti Riau Pos Group sudah mengabaikan  hubungan kemitraan dahulu dan hanya berpikir bagaimana menguasai Riau Pos  Group sekarang dengan cara mudah  dan murah.

Saya juga menduga saya  dizalimi karena sebagai Dirut perusahaan karyawan PT Riau Pos Multi Karya saya telah melawan dan menentang kebijakan manajemen dan pemegang saham PT Riau Pos Intermedia  Pers (Holding Company utama) di Group Riau Pos, yang telah membangkrutkan group bisnis ini dengan menggunakan data hasil audit yang keliru dan tidak tahu sejarah berdirinya Riau Pos Group. Dan saya juga merasa bahwa saya dizalimi karena dianggap orangnya Dahlan Iskan.

Sekarang saya sedang menjalani proses hukum. Saya dituduh telah menggelapkan uang perusahaan dan dilaporkan ke polisi. Sekarang perkaranya ada di tangan pihak Kejaksaan Tinggi Riau. Tentang perkara ini saya serahkan pada proses hukum dan biarlah nanti pengadilan yang membuktikannya.

Tapi saya tetap merasa sangat  dizalimi karena tindakan mereka yang tidak berhati nurani dan tidak menghargai jarih payah saya dan teman-teman termasuk almarhum Zulmansyah yang mendirikan dan membesarkan  Riau Pos Group.(rls)

Editor : Redaksi