TAHUN ISLAM 1448 H

Bedah Novel Karya Budayawan Senior Rida K Liamsi

Jadi Wahana Silaturahmi, Wariskan Semangat Literasi dan Sejarah Melayu

Riau Selasa, 23 Juni 2026 - 19:10 WIB
Jadi Wahana Silaturahmi, Wariskan Semangat Literasi dan Sejarah Melayu

Budayawan senior Rida K Liamsi, para kolega dan peserta bedah buku foto bersama.

RIAUEDUKASI.COM, PEKANBARU – Sejumlah budayawan senior, paruh baya dan generasi penerus bercengkrama dalam ruang bedah buku sastra karya Rida K Liamsi. Aula Perpustakaan Daerah Kota Pekanbaru, Ahad (21/6/2026), menjadi wahana silaturahmi. Memperkenalkan sekaligus mewariskan kecintaan dan semangat akan tradisi literasi plus sejarah Melayu.

Pesertanya lebih dari 100 orang. Sebagian besar mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Islam Universitas Islam Riau (UIR). Hadirin larut dalam bedah novel sejarah “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris” karya sastrawan senior Rida K Liamsi.

Kegiatan ini juga menjadi penutup perjalanan magang mahasiswa FKIP UIR yang selama beberapa bulan terakhir. Mereka terlibat di berbagai komunitas sastra dan taman baca masyarakat di Pekanbaru.

Azhar Gultom sebagai Ketua Panitia mengatakan, kegiatan tersebut digelar bersama sejumlah komunitas sastra dan taman baca sebagai acara puncak program magang mahasiswa.

BANNER SPMB SD BABUSSALAM

"Acara bedah buku ini menjadi penutup dari rangkaian program magang mahasiswa di komunitas sastra dan taman baca masyarakat," ujarnya.

BUKU RIDA2 OKee

Diskusi berlangsung hangat. Sejumlah tokoh sastra Riau seperti Marhalim Zaini, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Bambang Karyawan, hingga Mustamir Thalib turut hadir dan aktif merespons.

Tampil sebagai pembedah antara lain Dr Husnu Abadi, Dr Ruziah selaku Ketua Prodi PBSI UIR, Prof Yusmar Yusuf yang diwakili penyair Murparsaulian, serta Willy Ana, perancang sampul buku tersebut.

Dalam pemaparannya, Rida K Liamsi menjelaskan bahwa novel “Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris” merupakan novel sejarah kedelapannya. Mengangkat konflik politik antara Melayu dan Bugis pada masa Kesultanan Riau, Johor, Pahang, dan Lingga.

Menurut Rida, tokoh Tun Dalam merupakan sosok kontroversial sekaligus penyeimbang dalam dinamika politik kerajaan Melayu saat itu.

Para pembedah menilai novel tersebut tidak hanya menyajikan karya sastra. Tetapi juga menjadi jendela bagi generasi muda untuk memahami sejarah perjuangan dan dinamika politik di kawasan Melayu.

Salah satu momen yang menarik perhatian peserta terjadi ketika pembahasan beralih pada desain sampul buku. Perancang sampul, Willy Ana, mengungkapkan bahwa setiap elemen visual pada cover memiliki makna tersendiri.

Peta melambangkan sejarah Melayu, keris menjadi simbol amarah. Sementara burung gagak dipilih sebagai representasi dendam dalam konflik politik yang diceritakan dalam novel.

"Burung gagak merupakan simbol yang tepat untuk konflik politik dan dendam sejarah dalam cerita tersebut. Gagak adalah simbol dendam yang cerdas, bukan emosional. Gagak adalah simbol dendam yang berpikir," ujar Willy Ana.

Kehadiran puluhan mahasiswa dalam forum tersebut menjadi gambaran bahwa minat generasi muda terhadap sejarah dan sastra Melayu masih terus tumbuh. Melalui ruang-ruang diskusi seperti ini, warisan sejarah Melayu diharapkan tetap hidup dan dikenali oleh generasi penerus. ***

Editor : Zulkifli Ali