Durian dan Teori Harga Diri Pohon: Hipotesis Ilmiah yang Sangat Mungkin Tidak Akan Lulus Peer Review
Oleh Sudarsono Soedomo
Guru Besar bidang Ekonomi Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB)
Kalau pertanyaan ini menarik, barangkali Mukidi sudah berhasil melakukan sesuatu yang agak ilmiah. Bukan karena teorinya benar. Tetapi karena ia berhasil mengubah kegilaan menjadi pertanyaan penelitian.
SELAMA berabad-abad manusia sepakat bahwa durian adalah king of fruits —raja segala buah. Tetapi mengapa?
Para ahli tentu mempunyai berbagai penjelasan. Ada yang melihat bentuk buahnya, aroma, rasa, kandungan gizinya, atau berbagai keistimewaan lain. Semuanya masuk akal.
Saya tidak hendak membantah. Saya hanya ingin mengajukan satu hipotesis baru yang, mohon dicatat sejak awal, belum pernah diuji secara memadai dan sangat mungkin hanya hasil perenungan seorang penyuka durian setelah makan tiga biji.
Hipotesis itu saya namakan: Durian Territorial Dominance Theory. Atau dalam bahasa kampung: Teori Durian Tidak Mau Kalah.
Hipotesis ini berangkat dari pengamatan sederhana. Pohon durian tampaknya mempunyai kecenderungan untuk memenangkan persaingan ruang tajuk dengan pohon-pohon di sekitarnya. Ia membutuhkan cahaya. Karena itu, ia tumbuh ke atas untuk mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan dalam canopy hierarchy —hierarki tajuk.
Sampai di sini masih terdengar ilmiah. Masalahnya muncul ketika Mukidi mulai menafsirkan perilaku tersebut secara psikologis. Menurut teori ini, pohon durian tidak sekadar tumbuh. Ia menegosiasikan kedudukannya. Kalau di sekitarnya ada pohon yang lebih tinggi, durian merasa posisi sosialnya belum mapan. Maka energi pertumbuhan diarahkan untuk mengejar ketinggian.
Bunga ditunda. Buah ditunda. Pesta perkawinan ditunda. Pokoknya: “Kita selesaikan dulu urusan teritorial.” Dalam bahasa ilmiah, mungkin ini dapat disebut pre-reproductive territorial investment. Dalam bahasa Mukidi: “Belum waktunya kawin. Tetangga masih lebih tinggi.”
Di sinilah teori ini mulai ngawur. Tetapi jangan berhenti membaca. Sebab justru dari ngawur itulah muncul pertanyaan yang mungkin berguna.
Bagaimana kalau salah satu faktor yang memengaruhi pembungaan durian adalah posisi pohon dalam kompetisi mendapatkan cahaya dan ruang tajuk?
Pohon yang terus-menerus berada di bawah dominasi tajuk pohon lain tentu menghadapi lingkungan cahaya yang berbeda dengan pohon yang tajuknya terbuka dan memperoleh cahaya cukup. Maka petani durian mungkin perlu memperhatikan bukan hanya jarak tanam, tetapi juga siapa yang menjadi tetangga.
Ini penting. Sebab dua pohon yang ditanam dengan jarak sama belum tentu menciptakan kondisi yang sama. Durian ditanam lima meter dari pohon kecil tentu berbeda dengan durian yang ditanam lima meter dari pohon besar yang sudah menjadi penguasa kampung.
Secara geometris sama. Secara ekologis belum tentu. Secara politik tajuk, jelas berbeda. Pohon besar bahkan mungkin sedang berkata: “Wilayah udara ini sudah saya kuasai.”
Durian muda menjawab: “Belum tentu.” Maka dimulailah perlombaan vertikal.
Dalam ilmu kehutanan kita mengenal konsep kompetisi, dominansi, stratifikasi tajuk, dan perebutan cahaya. Mukidi kemudian melakukan sedikit modifikasi: kompetisi ekologis + imajinasi manusia = politik tajuk.
Jangan terlalu serius. Ini memang ngawur. Tetapi ngawur yang mudah-mudahan produktif.
Sebab dari sini kita dapat mengajukan hipotesis yang sungguh-sungguh dapat diuji: Apakah durian yang tumbuh tanpa dominasi tajuk pohon lain cenderung lebih cepat mencapai fase reproduktif dibandingkan durian yang berada di bawah tekanan naungan atau dominasi tajuk pohon lain? Nah!
Kalau pertanyaan ini menarik, barangkali Mukidi sudah berhasil melakukan sesuatu yang agak ilmiah. Bukan karena teorinya benar. Tetapi karena ia berhasil mengubah kegilaan menjadi pertanyaan penelitian.
Caranya sederhana. Ambil sejumlah pohon durian dengan umur dan varietas relatif sama. Kelompokkan berdasarkan kondisi lingkungan tajuk: A: tajuk terbuka; B: sebagian ternaungi; C: didominasi pohon lain. Kemudian ukur pertumbuhan, intensitas cahaya, perkembangan tajuk, waktu muncul bunga, jumlah bunga, dan akhirnya produksi buah.
Kalau kelompok A lebih cepat berbunga dan lebih produktif, kita boleh mulai curiga. Kalau tidak ada perbedaan? Ya sudah. Teorinya kita masukkan ke laci. Namanya juga hipotesis.
Tetapi ada satu hal yang tetap membuat saya tertarik. Mungkin gelar king of fruits sebenarnya bukan hanya karena buah durian luar biasa. Boleh jadi gelar itu cocok dengan karakter pohonnya.
Ia ingin ruang. Ia ingin cahaya. Ia ingin tajuknya berkembang. Ia ingin berdiri tegak. Ia tidak suka terlalu lama berada di bawah dominasi pohon lain.
Dengan kata lain, sebelum menghasilkan buah yang membuat manusia bersedia membayar mahal, ia terlebih dahulu membangun kerajaan tajuknya sendiri. Raja memang harus punya wilayah.
Maka kalau Anda menanam durian, jangan hanya berpikir: “Berapa jarak tanamnya?” Cobalah berpikir sedikit lebih jauh: “Apakah saya sedang menanam seorang raja, atau sedang menanam seorang raja di bawah bayang-bayang raja lain?”
Kalau yang kedua, jangan salahkan durian kalau ia lama berbunga. Mungkin ia sedang melakukan konsolidasi kekuasaan.
Dan akhirnya, disclaimer akademiknya perlu ditulis tebal-tebal: Teori ini belum terbukti. Tidak ada jurnal. Tidak ada peer review (telaah sejawat). Tidak ada experimental plot. Tidak ada statistical significance. Yang ada hanya pengamatan, sedikit pengetahuan tentang ekologi pohon, dan seseorang yang kebetulan sangat menyukai durian.
Jadi kalau ada ahli hortikultura membaca tulisan ini dan berkata, “Ini teori dari mana?” Jawabannya sederhana: Dari udel. Itupun boleh jadi udel bodong.
Tetapi kalau kemudian ada peneliti yang tertarik mengujinya secara serius, saya akan dengan senang hati mengubah nama teori ini. Misalnya: The Hypothesis of Canopy-Mediated Reproductive Allocation in Durian. Kedengarannya jauh lebih ilmiah. Padahal isinya tetap sama: Durian tidak mau kalah tinggi.
Dan kalau ternyata teori ini keliru? Tidak apa-apa. Toh, ada satu kesimpulan yang tidak memerlukan peer review: Durian tetap enak. Itulah satu-satunya hasil penelitian yang tingkat signifikansinya sudah mencapai p < 0,00001 di lidah Mukidi.***
(mBogor, 08082026)










