BANNER IDUL FITRI

Rohul

SMKN 1 dan SMAN 1 Rambah Penuhi Kuota PPDB 

Daerah Kamis, 11 Juli 2024 - 14:31 WIB
SMKN 1 dan SMAN 1 Rambah Penuhi Kuota PPDB 

ROHUL (DPPR) – Mengakhiri masa PPDB 2024, beberapa sekolah di Riau mendapatkan perhatian khusus dan berhasil memenuhi kuota dari realisasi penerimaan siswa baru. Hal ini terjadi SMKN 1 Rambah dan SMAN 1 Rambah, Rokan Hulu. Dua sekolah unggulan ini mencapai target maksimal dari ketersediaan rombel yang ada. Ini terlihat dari hasil monitoring dan evaluasi (Monev) Dewan Pendidikan Provinsi Riau (DPPR) di Kabupaten Rokan Hulu awal pekan ini.

Tim DPPR yang terdiri dari Fithriady Syam dan Aiden Yusti mendatangi SMKN 1 Rambah. Sekolah kejuruan ini menerima 396 siswa untuk 11 rombel atau kelas. Kepsek Indris Lika SSi MPd dan Ketua PPDB Adek Fernandes SPd, mengatakan pihak bersyukur bahwa minat siswa untuk melanjutkan pendidikan di sekolahnya cukup banyak. ‘’Kuota yang ada terpenuhi dan PPDB berjalan lancar. Kita memang siapkan panitia yang membantu calon siswa untuk mendaftar. Kebanyakan datang langsung ke sekolah. Kita juga memberikan bimbingan kepada calon siswa, jika peminat suatu jurusan sudah banyak, maka kita arahkan ke jurusan lainnya. Supaya tidak banyak siswa yang terpaksa tersisih akibat jurusan yang diminati sudah penuh,’’ katanya.

Lebih jauh, dia menyebutkan bahwa minat siswa untuk masuk SMKN 1 Rambah cukup stabil beberapa tahun belakangan ini. ‘’Bagi kami ini mengembirakan. Siswa dapat persiapkan untuk dunia kerja. Ada dua jurusan yang paling banyak diminati. Mudah-mudahan dengan pembelajaran yang kita lakukan siswa-siswa bisa memperoleh ilmu yang sesuai dan menghasilkan banyak prestasi,’’ lanjut Idris Lika yang merupakan alumni FMIPA Unri ini. 

SMKN 1 Rambah ini memiliki sembilan jurusan dengan tenaga pengajar sebanyak 98 orang. Sementara jurusan yang sangat diminati adalah Teknis Bisnis Sepeda Motor (TBSM) dan Teknik Kendaraan Ringan (TKR). Peminat sekolah ini berasal dari tamatan SMPN 1,2,3,4 Rambah dan MTsN Rohul. 

BANNER DUKA ZUM

Dalam pada itu, Wakil Kepsek SMAN 1 Rambah Rusli MPd mengatakan bahwa PPDB 2024 ini sudah bisa berjalan secara baik. Hingga akhir PPDB siswa yang diterima sebanyak 324 orang untuk sembilan rombel. ‘’Kami hanya fokus menerima siswa dari Desa Koto Tinggi dan Kelurahan Pasir Pengaraian saja. Dari dua wilayah itu saja, pendaftar sudah melebihi kuota. Memang ada yang tersisih, kita berhadap tidak ada anak yang putus sekolah,’’ ungkapnya. Menurut catatan sekolah ini, ada sekitar 50-60 siswa gagal masuk, karena kuota yang sudah terisi maksimal. 

Ditanyakan seputar sistem dan juknis PPDB 2024, dia menyebut sudah berjalan baik. Meski demikian sekolah ini juga menyiapkan 15 loket untuk memberikan pelayanan jika ada kendala dalam PPDB online ini. ‘’Kadang ada siswa ini yang bisa memakai HP, tapi tak ada pulsa untuk mendaftar online. Mereka kita bantu untuk upload file-file. Dan lagi mereka ingin memastikan tidak ada persyaratan yang kurang,’’ sebut Narudin, salah seorang operator PPDB yang ditemui DPPR.

Anggota DPPR Fithriady Syam menyebutkan bahwa ada beberapa sekolah yang ditemui di luar Pekanbaru yang peminatnya cukup banyak dari tahun ke tahun. ‘’Ini mengembirakan. Jangan sampai ada sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, tapi sepi peminat. Memang tugas berat menjadikan sekolah unggulan dan diminati tamatan SMP dan MTs sederajat. Implikasinya tidak sampai di situ saja, jika kurang siswa terus, maka nanti bisa jadi dimerger atau ditutup. Ini akan merugikan suatu daerah untuk jangka panjang,’’ katanya. 

Memang di daerah luar Pekanbaru, sistem Afirmasi sekolah swasta belum diperlukan. Sebab antara tamatan setingkat SMP masih berimbang dengan daya tampung SMA atau SMK. ‘’Cuma beberapa sekolah swasta, pesantren dan yayasan juga sudah bermunculan di daerah. Kita survei sudah cukup banyak perkembangan pendidikan menengah di kabupaten dan kota se-Riau. Ini juga memberikan harapan bahwa tidak ada anak yang putus sekolah,’’ jelasnya.

Hal senada diungkapkan Aiden Yusti. Dia berharap jika kuota PPDB sudah sesuai aturan, maka sebaiknya banyak prestasi yang bisa dilahirkan di SMA dan SMK. ‘’Kita juga mendapati beberapa sekolah di daerah mulai peroleh prestasi. Baik tingkat kabupaten, provinsi bahkan nasional. Selain itu, para guru juga sudah banyak yang mengupgrade pengetahuan dan keilmuan mereka melalui program yang disediakan pemerintah seperti guru penggerak dan sejenisnya,’’ ujarnya. (FS/Eka).

Laporan : FSY
Editor : Eka