Siswa SMAN 2 Pangkalan Kerinci Kenakan Busana Baju Melayu dan Tanjak Sekali Seminggu
PELALAWAN (DPPR) - Siswa/siswi SMAN 2 Pangkalan Kerinci rutin berpakaian melayu dan tanjak sekali dalam seminggu. Peraturan ini diterapkan karena menyesuaikan dengan tradisi di bumi Melayu.
Hal ini diungkapkan pihak sekolah kepada Dewan Pendidikan Provinsi Riau (DPPR) yang sedang melaksanakan kunjungan kerja (kunker), Senin (29/1/2024). Kunjungan disambut oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Pangkalan Kerinci, Misnarti SPd MM, Wakil Bidang Kurikulum Shinta, dan para guru.
Kepala Sekolah SMAN 2 Pangkalan Kerinci, Misnarti SPd MM mengatakan selain berpakaian melayu, pihaknya juga akan menerapkan berbahasa Melayu setidaknya sehari dalam seminggu.
“Berpakaian melayu dan tanjak, anak tahun ajaran baru ini sudah diterapkan karena kita di bumi Melayu. Tapi belum melaksanakan berbahasa Melayu satu hari dalam satu minggu. Dengan kunjungan DPPR, insyaallah kami akan segera menerapkannya,” ujar Kepsek.
Misnarti menyebutkan untuk pembelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Melayu Riau (BMR) telah dilaksanakan selama dua jam pertemuan perkelas dalam seminggu. Karena tidak memiliki guru BMR yang spesifik, pihak sekolah sepakat menetapkan guru yang mengajar BMR yang dasarnya orang Melayu.
“guru BMR spesifik tidak ada, hanya diperbantukan guru lain yang dasarnya orang Melayu,” ucapnya.
Saat ini lanjut Misnarti, beberapa kendala dihadapi guru BMR saat mengajar. Salah satunya buku BMR yang belum ada. Dalam kesempatan itu juga Misnarti berharap kepada DPPR dan pihak terkait agar mempertimbangan sertifikasi untuk guru BMR.
Anggota DPPR Herman Maskar SPd MSi mengatakan kunker yang rutin dilaksanakan setiap anggota DPPR ke sekolah-sekolah yang ada seProvinsi Riau untuk melihat secara langsung proses belajar, antara lain Muatan Lokal (Mulok) Budaya Melayu Riau (BMR), pelajaran keagamaan, hingga aktifitas lainnya di sekolah.
“’Kami ingin memastikan proses belajar di sekolah ini bisa berjalan lancar. Setiap saran dan keluhan sekolah-sekolah terkait mulok BMR, akan kami sampaikan ke pihak yang terkait. Termasuk saran dari SMAN 2 Pangkalan Kerinci,” ujar Herman.
Saat ini di SMAN 2 Pangkalan Kerinci terdapat 800 orang siswa yang terbagi menjadi 26 rombongan belajar (rombel). Kemudian ada 50 orang guru yang mengajar. (Eka)










