Oknum Pengurus PGRI Riau Diduga Lakukan Pungli Terkait PPPK
Ketua LKBH PGRI Taufik
PEKANBARU, DPPR - Dugaan pungutan liar (Pungli) kembali terjadi, kali Ini terhadap guru yang diduga dilakukan oleh oknum pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) di Provinsi Riau berinisial EW.
Pemerintah pusat lagi giat-giatnya dalam menyelesaikan permasalah pegawai PPPK dengan melakukan pengangkatan bertahap hingga terselesaikannya seluruh tenaga PPPK sesuai janji pemerintah pusat.
Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh Oknum Pengurus PGRI berinisial EW yang diduga melakukan pungli terhadap guru-guru dengan modus bagi yang mau jadi PPPK di Riau harus membayar iuran sebesar Dua Puluh lima Ribu Rupiah (Rp.25.000) per guru.
Hal ini jelas mencoreng nama baik Kementerian Pendidikan, melalui pesan singkat beredar, telah keluar hasil keputusan rapat terhadap oknum yang melakukan pengutan liar (Pungli) yang berangkat ke Jakarta mengurus PPPK ini.
Selain itu juga telah beredar isi chat via WhatsApp dari beberapa guru yang sudah menyetor kepada Oknum berinisial EW yang juga merupakan pengurus PGRI Riau.
“Kita sangat menyayangkan tindakan praktik Pungli ini, karena pelakunya Oknum pengurus dari PGRI Riau sendiri. Dan saya selaku Ketua LKBH PGRI Riau meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk mengusut tuntas kasus ini agar pelaku bisa mempertangung jawabkan perbuatannya di hadapkan Hukum dan agar tidak ada lagi hal-hal seperti ini terjadi yang dapat mencoreng nama baik Dunia Pendidikan kedepanya," tegas Ketua LKBH PGRI Taufik.
Saat dikonfirmasi wartawan ke Nomor WhatsApp yang bersangkutan, EW membantah adanya dugaan pungli kepada guru, itu hanya iuran sukarela, sampai berita ini diturunkan.
EW Sebut Pungutan 8 Orang Guru SMA 6 Sifatnya Sukarela
Beredarnya informasi adanya pungutan liar (Pungli) yang dilakukan oknum EW pada delapan orang guru honorer di SMA 6 Pekanbaru masing-masing Rp 25 ribu.
EW menyebut itu dilakukan secara sukarela sumbangan untuk membantu biaya kawan-kawan yang akan mengurus Tenaga Pendidik (Tendik) ke Jakarta.
"Tak benar pungli, yang ada mereka mengumpulkan uang sukarela sebagai bantuan bagi kawan-kawan yang akan mengurus ke Jakarta. Tidak ada dipaksa ataupun ditetapkan angkanya. Itu hanya kesepakatan saja diantara kawan-kawan itu," ujar EW menjawab media di Pekanbaru, Minggu (25/6).
Dijelaskan EW, untuk pengurusan Tendik ke Jakarta itu tidak ada yang membiayai. Lebih pada uang pribadi, sehingga beberapa anggota berinisitif memberikan sumbangan. Jumlahnya Rp 200 ribu dari 8 orang anggota dan dipegang bendahara.
Satu hal lagi yang patut digaris bawahi menurut EW, perjuangan itu tidak mengatasnamakan PGRI tidak bisa disangkutpautkan dengan hal itu.
"Saya memperjuangkan Tendik PPPK ke Jakarta karena kepercayaan kawan-kawan, bukan tugas dari PGRI. Jangan melebih-lebihkan dan harus disikapi dengan jujur juga," ungkapnya.
Sebelumnya, Ketua LKBH PGRI Riau, Taufik menyebutkan EW telah melakukan pungli untuk megurus Tendik PPPK.
"Hasil pemeriksaan dan klarifikasi tim LKBH PGRI Riau, yang bersangkutan diduga melakukan pungli dengan alasan memperjuangkan tendik ke PPPK di Jakarta," ujar Taufik pada salah satu media terbitan Pekanbaru.
Namun para korban belum melaporkan, kata Taufik. Taufik menyayangkan tindakan praktik pungli dan mengutuk apa yang dilakukan oknum EW. Dimana, sebagai pengurus PGRI secara tidak langsung sudah mengajarkan hal yang tidak patut dan menciderai pendidikan. (Miki)










