BANNER HARDIKNAS 2026

Kisah Kekejaman Zionis Israel di Gaza

Pulang dari Penjara Israel, sang Guru Tak Lagi Dikenali

Internasional Kamis, 14 Mei 2026 - 11:15 WIB
Pulang dari Penjara Israel, sang Guru Tak Lagi Dikenali

RIAUEDUKASI.COM, PEKANBARU – Kekejaman Israel begitu nyata dan dunia tetap diam. Seorang guru yang sepanjang hidupnya mengajarkan bahasa, sopan santun, dan harapan… dipulangkan kepada murid-muridnya dalam keadaan nyaris tak bisa dikenali lagi sebagai manusia.

Kisah ketabahan luar biasa sekaligus saksi hidup kekejaman pemerintahan Zionis ini diambil dari akun Fb Herman Kajang. Isinya disadur dari cerpen berdasarkan kisah nyata sang guru dengan judul “Dari Langit Gaza”.

***

DI sebuah sekolah kecil di Palestina, ada seorang guru bahasa Inggris bernama Ibrahim Muhammad Al-Shawish. Tubuhnya tinggi, suaranya lembut, dan ia selalu tersenyum saat membuka kelas sebelum memulai pelajaran.

BANNER HADIS NABI

“Repeat after me…”
Begitu biasanya ketika ia baru memulai pelajaran.

Anak-anak menyayanginya. Bukan karena bahasa Inggris itu mudah, tapi karena Ibrahim membuat dunia terasa sedikit lebih aman di tengah perang yang tidak pernah benar-benar tidur.

Kadang listrik padam saat belajar. Kadang jet tempur Israel melintas rendah di langit. Kadang dentuman bom membuat kaca jendela bergetar. Tapi Ibrahim selalu menenangkan murid-muridnya. “Selama kita masih bisa belajar, berarti kita belum kalah.”

Di kelas kecil itu, ia mengajari kata-kata sederhana: book, water, family, hope. Kata terakhir itu yang paling sering ia ulang. Hope. Harapan.

Lalu suatu malam, Israel datang. Tidak ada surat penangkapan. Tidak ada pengadilan. Tidak ada kesempatan menjelaskan apa pun. 

Yang terdengar hanya dobrakan pintu, teriakan tentara, tangis keluarga, dan suara tubuh seorang guru yang diseret keluar rumahnya sendiri.

Sejak malam itu, Ibrahim hilang. Murid-muridnya terus bertanya, “Pak Ibrahim ke mana?”

Tak ada yang bisa menjawab. Hari berubah minggu. Minggu berubah bulan. Bangku tempat Ibrahim biasa duduk mulai berdebu. Papan tulis tak lagi dipenuhi tulisan bahasa Inggris yang rapi. 

Di beberapa buku latihan, masih ada tinta merah kecil dari tangan gurunya: “Good job.” “Excellent.” “Don’t give up.”

Sementara itu, jauh dari sekolah kecil itu, Ibrahim sedang menghadapi pelajaran paling kejam dalam hidupnya. Matanya ditutup, tangannya diikat, tubuhnya dipaksa berlutut berjam-jam sampai lututnya seperti patah perlahan.

Empat puluh lima hari pertama terasa seperti lorong tanpa cahaya. Ia disetrum. Dipukul. Dihina tanpa henti. Anjing dilepas membiarkan tubuhnya dilumat. Ia diperlakukan bukan seperti manusia, tapi seperti sesuatu yang boleh dihancurkan kapan saja.

Kadang Ibrahim mencoba bertahan dengan mengingat wajah murid-muridnya. Kadang ia mengulang kosa kata bahasa Inggris di kepalanya sendiri agar tidak kehilangan akal. Freedom… Justice… Humanity…

Kata-kata yang dulu terdengar indah di ruang kelas, kini berubah seperti ejekan di dalam sel penjara.

Lalu ia dipindahkan ke Penjara Negev. Di sana tubuhnya mulai menghilang sedikit demi sedikit. Pipinya cekung. Matanya tenggelam. Kulitnya menempel di tulang seperti kain tipis di ranting kering. Rambut dan janggutnya memutih lebih cepat dari usianya.

Satu tahun berlalu. Dan pada suatu hari, pintu penjara itu akhirnya terbuka. Ibrahim dibebaskan.

Orang-orang berkumpul menyambut para tahanan yang pulang. Tangis pecah di mana-mana. Nama-nama dipanggil satu per satu.

Lalu dari kejauhan, muncul seorang lelaki berjalan pelan. Sangat pelan. Tubuhnya kurus sekali sampai bajunya tampak menggantung di tulang. Kakinya gemetar setiap melangkah. Wajahnya pucat seperti seseorang yang terlalu lama dikubur hidup-hidup.

Orang-orang memandang bingung. Tak ada yang langsung mengenalinya. Sampai seorang murid kecil menatap lama ke arah lelaki itu. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar.

“…Pak Ibrahim?”

Kerumunan mendadak sunyi. Karena lelaki di depan mereka hampir tidak lagi menyerupai guru yang dulu berdiri tegak sambil tersenyum di depan kelas itu. Tubuhnya tinggal tulang. Matanya cekung dalam. Bekas luka memenuhi wajah dan tangannya.

Seorang murid perempuan tiba-tiba menangis keras. “Itu bukan Pak Ibrahim…”

Lalu murid lain menjawab sambil terisak, “Itu memang Pak Ibrahim…”

Dan kalimat itu menghancurkan semua orang yang mendengarnya. Guru yang dulu mengajarkan kata “hope” kini pulang dalam keadaan seperti manusia yang nyaris dirampas bentuk manusianya sendiri.

Anak-anak mendekatinya perlahan. Sebagian menangis. Sebagian hanya berdiri diam dengan mata merah. Mereka seperti sedang melihat seseorang kembali dari kematian… Tapi kematian itu lupa mengembalikan tubuhnya secara utuh.

Ibrahim mencoba tersenyum. Senyum kecil. Sangat kecil. Namun bahkan senyum itu terlihat kelelahan.***
 

Editor : Zulkili Ali