HARI SARJANA NASIONAL

Kisah Karier Rara dari Bangku SD hingga Panggung Internasional

Berani Memulai dan Tak Cepat Puas, Beri juga Ruang bagi Musisi Lokal

Serba Serbi Senin, 05 Oktober 2026 - 14:46 WIB
Berani Memulai dan Tak Cepat Puas, Beri juga Ruang bagi Musisi Lokal

Rara Siti Rachmawati memperlihatkan penghargaan yang diraihnya di Kazakhstan.

RIAUEDUKASI.COM, PEKANBARU — Kisah perjalanan musisi Kota Pekanbaru ini dalam meniti karier bisa menjadi pelajaran berharga. Rara Siti Rachmawati bukan saja tunak di jalurnya tetapi juga punya prinsip dan tipikal pantang menyerah.

Bagi Rara, musik menjadi ruang untuk menceritakan perjalanan hidup. Setiap lirik yang lahir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan potongan pengalaman yang pernah ia rasakan.

Perjalanan itu kini telah menghasilkan tiga single yang ditulisnya sendiri. Ketiganya memiliki cerita berbeda. "Alhamdulillah, untuk sekarang lagu yang Rara tulis sendiri sudah ada 3 single. Semua lagu-lagunya ini merupakan cerita kehidupan Rara," ujarnya di Pekanbaru, Jumat (2/10/2026).

Lagu Asing Dalam Satu Malam menjadi gambaran ketika dirinya berada dalam fase galau. Sementara Semesta Hatiku lahir dari suasana ketika sedang kasmaran. Adapun Aku Harus Apa kembali membawa cerita tentang kebimbangan dalam kisah asmara.

BANNER SWADAYA UMMAH

Bagi Rara, keberanian menghasilkan karya tidak selalu harus menunggu seseorang memiliki panggung besar, penggemar yang banyak, atau peralatan produksi yang serba lengkap. Langkah pertama justru dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana yaitu menemukan inspirasi, mengasah kreativitas, kemudian berani memulai.

"Untuk kawan-kawan yang mau memulai bikin lagu tentu pertama kali harus ada inspirasi, kreativitas, dan niat untuk memulai. Masalahnya, banyak anak muda sekarang yang lebih banyak komentar daripada bertindak," tutur Rara.

Dijelaskan, satu di antara persoalan yang kerap menghambat anak muda berkarya adalah rasa cepat puas sekaligus pesimis. Ada yang merasa cukup dengan rutinitas manggung reguler. Sementara sebagian lainnya sudah lebih dulu berpikir bahwa karya yang dibuat tidak akan mendapatkan pendengar.

Padahal, perkembangan platform digital telah membuka ruang yang jauh lebih luas bagi musisi untuk memperkenalkan karya.

Karena itu, Rara menilai dibutuhkan lebih banyak ruang belajar dan pendampingan agar anak muda tidak hanya memiliki kemampuan, tetapi juga memahami bagaimana sebuah karya diproduksi dan dikembangkan.

"Tentu perlu ada workshop atau wadah motivasi agar anak-anak muda ini paham bagaimana cara memproduksi dan mengembangkan karya mereka," jelasnya.

Namun, persoalan berkarya menurut Rara tidak berhenti pada kemampuan teknis. Ada satu hal lain yang tidak kalah penting, yakni mental untuk terus berjalan meski usia bertambah dan kesempatan belum datang sesuai harapan.

"Jangan pernah berpikir sudah umur segini, ngapain berkarya? Tidak ada kata terlambat. Niat awalnya pun jangan cuma mengejar viral, tapi fokus membuat karya dulu," tambahnya.

Ia mengibaratkan perjalanan seorang musisi dengan seorang pelukis. Seorang pelukis tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggambar tanpa pernah menghasilkan sebuah lukisan. Begitu pula dengan seniman musik yang memiliki bakat, tetapi tidak pernah melahirkan karya.

"Analoginya sama seperti pelukis. Kalau dia tidak menghasilkan lukisan, apakah bisa disebut seniman? Sebakat apa pun kita, kalau tidak punya karya, kita bukan seniman," ucapnya.

Dari pengalaman tersebut, perhatian Rara kemudian mengarah pada ekosistem seni di daerahnya, khususnya Pekanbaru. Ia melihat di Riau memiliki banyak penyanyi dan talenta lokal yang tidak hanya mampu tampil, tetapi juga telah memiliki karya sendiri.

"Kita sebenarnya sudah punya band lokal dan musisi lokal yang mampu bersaing di luar sana. Bahkan, kita juga punya tempat seperti Anjungan Seni Idrus Tintin atau Riau Creative Hub dan lain-lainnya, tetapi kenapa tidak dibuat program rutin penampilan karya lokal yang dikemas sekaligus promosi pariwisata," ungkapnya.

Diterangkan, ruang pertunjukan tersebut dapat dikembangkan menjadi panggung yang mempertemukan seniman, masyarakat, wisatawan, sekaligus pelaku ekonomi kreatif. Program yang berjalan rutin juga dapat menjadi kesempatan bagi talenta baru untuk memperkenalkan karya tanpa harus menunggu adanya acara besar.

Ia menyoroti pula fenomena ketika penyanyi yang tampil dalam sejumlah konser maupun kegiatan pemerintah daerah cenderung berasal dari nama-nama yang sama. Sementara di sisi lain, masih banyak talenta lokal yang menunggu kesempatan untuk menunjukkan karya mereka.

"Setiap ada konser dan acara pemda, performer yang dipanggil sering kali orang yang itu-itu saja. Padahal talenta penyanyi lokal di Riau ini banyak sekali yang punya karya, tapi tidak diberi kesempatan," terangnya.

Potensi Budaya Riau
Di sisi lain, Rara membagikan pengalamannya ia hubungkan dengan potensi budaya dan pariwisata Riau. Menurutnya, panggung musik tidak semestinya hanya berhenti sebagai hiburan tetapi dapat dirancang sebagai bagian dari strategi memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat dari berbagai wilayah.

Sebagai gambaran, Rara menyebut terkait konsep lomba bernyanyi internasional di Kazakhstan yang mempertemukan peserta dari sekitar 20 negara dengan membawakan lagu daerah Kazakhstan. Bagi dia, konsep semacam itu dapat diadaptasi dengan karakter budaya Melayu Riau.

"Sebagai contoh, Voice of Turan di Kazakhstan. Kita tampil bersama penyanyi internasional dari 20 negara dengan membawakan lagu daerah Kazakhstan," tuturnya.

Dari sana, ia membayangkan sebuah kompetisi yang mempertemukan penyanyi dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke, dengan lagu Melayu Riau sebagai materi yang dibawakan. Bukan hanya kompetisi, kegiatan itu juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya lokal kepada peserta dan pengunjung yang datang.

"Harusnya daerah kita bisa bikin konsep serupa, misalnya kompetisi dari Sabang sampai Merauke membawakan lagu Melayu Riau. Pastilah dengan datangnya orang-orang ke sini, tentu bakal ada promosi budaya dan pariwisata Riau bahkan perputaran ekonomi bisa dirasakan," pungkasnya.

Bagi Rara, gagasan itu pada akhirnya kembali kepada satu hal yakni keberanian untuk menciptakan ruang bagi karya. Sebab ketika seniman diberi kesempatan untuk tampil, karya tidak hanya menjadi milik penciptanya tetapi juga dapat menjadi bagian dari branding sebuah daerah.

Dari Kondangan hingga Kazakhstan
Penyanyi asal Pekanbaru ini, berhasil meraih penghargaan khusus Diplomat of the International Festival of Kazakh Songs dalam ajang Voice of Turan 2026 di Turkistan, Kazakhstan, pada 26–27 September 2026.

Penghargaan diserahkan setelah Rara membawakan lagu berbahasa Kazakhstan secara fasih di hadapan juri serta perwakilan dari 20 negara. Keikutsertaannya sekaligus menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya perwakilan dari kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pada ajang edisi ke-7 tersebut.

"Tentu sampai saat ini masih terasa kayak mimpi bisa mewakilkan Indonesia di tingkat internasional. Alahamdulillah, Rara dapat penghargaan khusus Diplomat of the International Festival of Kazakh Songs," ujar Rara.

Rara menjelaskan bahwa festival antarnegara tersebut bertujuan mempererat hubungan budaya dan diplomasi antarnegara peserta. Penilaian dewan juri didasarkan pada ketepatan teknik vokal serta penghayatan terhadap materi lagu khas Kazakhstan.

"Penghargaan itu dikasih karena penilaian dewan juri terhadap penampilan Rara, yang membawakan lagu berbahasa Kazakhstan dengan sangat baik di hadapan peserta dari 20 negara. Tahun ini, Indonesia menjadi satu-satunya peserta dari kawasan ASEAN dan telah berpartisipasi dalam Voice of Turan secara berturut-turut sejak 2024," katanya.

Tekun Sejak Usia 4 Tahun
Pencapaian ini merupakan buah dari perjalanan musik yang ditekuni Rara sejak berusia empat tahun. Kegemarannya bernyanyi mulanya tumbuh dari dorongan keluarga serta pengalaman tampil pada acara-acara pernikahan lokal.

"Jauh sebelum menjadi kayak sekarang, Rara memang hobi nyanyi itu sudah dari kecil. Sejak umur 4 tahun suka tampil malahan kalau ada acara kondangan. Kebetulan keluarga dari pihak Ayah, seperti Om dan Tante, memang pemusik," jelas Rara.

Memasuki usia tujuh tahun, Rara mulai mengikuti kompetisi bernyanyi formal tingkat lokal di Plaza Citra Pekanbaru. Pengalaman pertama tersebut menjadi titik awal baginya untuk mempelajari teknik vokal secara intensif di bawah bimbingan pelatih profesional.

"Bahkan pas umur 7 tahun, Rara didaftarkan lomba nyanyi sama Ayah dan Ibu di Plaza Citra. Awalnya sempat nggak menang, tapi karena kita gigih dan mau belajar terus, akhirnya berhasil dapat Juara 3," ucapnya.

Ajang kompetisi sekolah kemudian menjadi tempat Rara mengasah bakat hingga meraih juara satu Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kota Pekanbaru pada jenjang sekolah dasar. Ia terus terpilih menjadi utusan solo vokal Provinsi Riau ke tingkat nasional di Manado hingga masa pendidikan menengah atas.

"Nah iya, dari sejak itulah Rara ikut belajar nyanyi dilatih guru vokal. Makanya waktu SD, Rara terpilih jadi perwakilan sekolah untuk ikutan festival lomba seni siswa tingkat Kota Pekanbaru dan Alhamdulillah dapat juara satu. Lanjut ke jenjang SMP dan SMK, Rara terus dipercaya jadi perwakilan Solo Vokal Provinsi Riau ke tingkat Nasional di Manado," terangnya.

Karier semakin terbuka saat Rara menjuarai ajang Bintang Radio Indonesia tingkat Kota Pekanbaru pada 2017. Kemenangan tersebut membawanya melangkah ke kompetisi tingkat nasional mewakili daerahnya.

"Ketika tahun 2017, Rara ikutan ajang Bintang Radio Indonesia. Alhamdulillah dapat Juara 1 dan mewakili Pekanbaru ke tingkat Nasional," lanjutnya.

Konsistensi dalam jalur kompetisi terus berlanjut hingga Rara menembus babak Top Thirty pada ajang Indonesian Idol musim ke-12 tahun 2023. Perjalanan tersebut membentuk karakter bertandangnya melalui berbagai panggung penilaian publik secara bertahap.

"Kemudian pada tahun 2023, Rara ikut daftar Indonesian Idol musim ke-12 dan berhasil tembus top thirty. Jadi dari dulu memang tipikal penyanyi yang berjuang dari lomba ke lomba sejak kecil, bukan yang berawal dari anak band atau langsung tampil di panggung reguler," ungkapnya.

Tantangan Mental
Proses penyesuaian mental menghadapi kritik juri dinilai Rara sebagai tantangan terberat selama menggeluti dunia seni suara. Penilaian subjektif serta ragam komentar kritis dijadikan sarana evaluasi teknis untuk meningkatkan kualitas vokal.

“Tantangan terbesarnya ada di mental. Seni itu kan nggak bisa diukur secara pasti soalnya selera juri beda-beda ada yang suka rock, blues, atau pop. Terus komentar juri juga sering pedas, misalnya dibilang suaranya kecil atau fales. Ada orang yang kena komentar begitu langsung patah semangat dan berhenti nyanyi. Tapi kalau Rara pribadi justru termotivasi," tuturnya.

Kesiapan menerima masukan serta evaluasi diri menjadi kunci utama kelangsungan perjalanannya di industri musik. Melalui pengalaman di Kazakhstan, Rara berkomitmen terus mengembangkan potensi diri dan membawa nama Indonesia pada ajang serupa di masa mendatang.

"Kalau kita nggak mau terima masukan orang lain, kita nggak bakal berkembang. Tantangan terbesar memang mengolah mental dan mengembangkan diri," pungkasnya.***

Editor : Zulkifli Ali