Libatkan Profesional Muda Asia-Eropa, Mencari Solusi Bersama terhadap Berbagai Tantangan Global
Acara pembukaan pertemuan profesional muda dari Asia dan Eropa berlangsung di Jakarta.
RIAUEDUKASI.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pertemuan profesional muda dari kawasan Asia dan Eropa untuk memperkuat pemahaman serta kolaborasi di bidang diplomasi sains dan teknologi. Kegiatan itu bertajuk Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 berlangsung di Jakarta, Selasa (20/10).
Dikutip dari laman Brin.go.id, lembaga ilmiah ini menggandeng dua pihak terkait, yakni Kementerian Luar Negeri RI dan Asia-Europe Foundation (ASEF). Sejumlah tantangan global seperti perubahan iklim, kesehatan, kecerdasan buatan, hingga ketahanan pangan menjadi topik hangat. Guna mengatasi hal itu, dibutuhkan kolaborasi lintas negara dan disiplin ilmu. Disimpulkan pula bahwa diplomasi sains menjadi salah satu pendekatan untuk menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebijakan dan kerja sama internasional.
Beata Stoczynska selaku Direktur Eksekutif ASEF menegaskan, tantangan global tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau institusi saja. Karena itu, kolaborasi lintas batas menjadi kebutuhan untuk memastikan sains dan teknologi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Tantangan di berbagai bidang seperti perubahan iklim, kesehatan publik, kecerdasan buatan, kehilangan biodiversitas, pangan, dan keamanan energi tidak menghormati perbatasan nasional. Tidak ada negara, institusi, atau disiplin yang bisa menjawab tantangannya sendiri,” tegas Beata.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam membangun pemahaman publik terhadap perkembangan teknologi, memperkuat kepercayaan terhadap sains, serta memastikan manfaat inovasi dapat dirasakan secara merata. Maka, ia pun mendorong para peserta untuk menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya ambisius, tetapi juga dapat ditindaklanjuti.
Pandangan tersebut sejalan dengan penekanan Gubernur Indonesia untuk ASEF, Andri Hadi, mengenai pentingnya menerjemahkan pengetahuan ilmiah menjadi kebijakan dan kerja sama konkret. Menurutnya, kemajuan sains dan teknologi perlu diiringi dialog, kepercayaan, serta pemahaman terhadap perspektif yang berbeda.
“Sains dan teknologi menawarkan pengetahuan yang berharga dan solusi inovatif, tetapi kemajuan ilmiah saja tidak cukup untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Yang sama pentingnya adalah dialog, kepercayaan mutual, dan kemampuan kita untuk menerjemahkan pengetahuan ilmiah ke dalam kebijakan yang efektif dan kerja sama praktis,” kata Andri.
Ia juga menilai forum ini dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya jejaring dan kemitraan jangka panjang. Pertukaran gagasan antarpeserta diharapkan membuka peluang kolaborasi penelitian, inisiatif kebijakan, serta bentuk kerja sama baru antara Asia dan Eropa.
Sementara itu, Kepala BRIN, Arif Satria menegaskan bahwa riset dan inovasi membutuhkan keterhubungan antara peneliti, pembuat kebijakan, komunitas diplomatik, industri, dan masyarakat agar dapat menghasilkan dampak yang lebih luas. Dalam konteks tersebut, diplomasi sains menjadi jembatan yang mempertemukan kepakaran ilmiah dengan kebutuhan dan kepentingan lintas negara.
“Dampaknya tidak hanya bergantung pada kualitas kerja ilmiah, tetapi juga pada koneksi antara para peneliti, pembuat kebijakan, komunitas diplomatik, industri, dan masyarakat,” jelas Arif.
Ia menambahkan, kemitraan BRIN dengan ASEF merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas profesional muda agar mampu menghubungkan perspektif ilmiah dengan proses dialog dan kerja sama internasional. Investasi pada sumber daya manusia dan jejaring kolaborasi dinilai penting untuk membentuk kemitraan yang berkelanjutan.
“Melalui kemitraan kita dengan ASEF, BRIN dengan senang hati berkontribusi pada pengembangan para profesional muda yang dapat menghubungkan perspektif ilmiah dengan keterlibatan informatif. Kita melihat ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi sebagai investasi pada orang-orang dan hubungan yang akan membentuk kerja sama internasional di masa depan,” pungkasnya.
Melalui forum ini, BRIN dan ASEF mendorong penguatan jejaring diplomasi sains yang melibatkan generasi muda Asia dan Eropa. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan perspektif ilmiah dan kebijakan untuk merespons tantangan global sekaligus memperluas manfaat riset dan inovasi bagi masyarakat.***










