Berhutang Uang Pendaftaran Masuk SMA
APA yang ingin ditulis Firdaus sebenarnya sederhana; tak mudah menggapai matahari. Soalnya orang tak bisa memilih untuk lahir dimana dan dari ibu dan bapak yang bagaimana. Itulah takdir.
Perjalanan hidup untuk menggapai matahari harus ditempuhnya sejak masa anak-anak bersama ibu bapak yang miskin -- yang tinggal di kampung dalam rumah dengan atap daun yang bocor.
Bukannya tak ada yang bisa membantu tapi itu pulalah fase-fase kehidupan seorang Firdaus. Semangat yang menggebu patut diacungi jempol. Cobaan hidup terus datang tapi di situ pula ada hikmahnya.
Buku ini memang patut dibaca semua orang, karena pandai sekali “Aheng” mengemas tuturnya. Tak ada kesan ia seorang akademisi dengan rasa profesor.
Bahasanya begitu enak dibaca, bak air mengalir. Kita dibawanya masuk dalam dirinya. Apalagi ketika sampai kisahnya masuk SMA.

Pada waktu mendaftar uangnya kurang. Hanya punya Rp10.000 dari Rp20.000 yang harus dibayarkan. Menjelang masuk sekolah ia mencari sendiri uangnya. (Hal. 21).
Dia mengambil upah menoreh (menakik) getah. Hanya dalam waktu sebulan dia bisa melunasi uang pendaftaran.
Puncak-puncak buku ini sebenarnya ada di masa SD dan akhir studinya di SMA. Suatu kisah yang sangat aspiratif untuk “orang susah”.
Buku ini ditulis 7 bab. Dalam satu jam bisa dibaca habis. Bisa dibawa karena ringan. Dicetak 100 halaman di kertas koran dengan ukuran 13 x 19 Cm. Hampir tak ada kesalahan cetak.
Menurut penulis, jumlah 7 bab yang dipilih diilhami tujuh ayat dalam surat Al Fatihah. Diapit prolog dan epilog.
Bab 1 berisikan awal sebuah perjalanan dimulai masa kecil. Bab 2 keluarga dan masa kecil. Berkisah tentang masa remaja yang kritis.
Bab 3 sampai bab 5 adalah dokumentasi di dunia akademis dan profesional. Mulai jadi mahasiswa sampai menjadi akademisi, dan peneliti yang andal.
Di bagian prakata disebutkan bahwa buku otobiografi ini diberi judul “Dalam Dekap Cahaya: Story of My Life” merupakan refleksi pribadi atas perjalanan hidup yang yang ditempuh dalam enam dekade.
Dan sekalian ini menjadi oleh-oleh ulang tahun ke-60. Masih ada sisa 10 tahun lagi untuk menyelesaikan pengabdian sebagai profesor di FKIP Unri, yang diraihnya dalam usia 42 tahun.
Bagian awal buku ini ada 8 orang terpandang; tokoh, akademisi dan lainnya memberi pandangan terhadap pribadi Firdaus. Lalu, 11 orang memberi kesan serta 7 mahasiswa pengagum.
Dan yang menarik adalah pengantar dari teman sewaktu kuliah di Prancis, Razak Purba. Menurutnya “Tulang Aheng” memang keras dan tegas.***(Said Suhil Achmad)










