Ketika Guru Belajar Bertumbuh
Oleh: L.N. Firdaus
Certified Excellent Trainer Professional (CETP®), Direktur Eksekutif Pusat Transformasi Minda Guru (CTMT), FKIP Universitas Riau
DI TENGAH derasnya arus perubahan dunia pendidikan abad ke-21, salah satu tantangan terbesar guru bukan hanya menguasai teknologi atau strategi pembelajaran, melainkan mengubah cara berpikirnya sendiri. Sering kali, guru terjebak pada keyakinan bahwa kemampuan siswa —atau bahkan dirinya sendiri— sudah “tetap” dan tidak bisa diubah.
Pelatihan Transformasi Minda Guru SMP se-Kabupaten Bengkalis Tahun Anggaran 2025 yang berlangsung di Hotel Surya, 5-7 Oktober 2025, hadir sebagai ruang pembelajaran reflektif untuk menantang keyakinan lama itu. Dengan mengusung topik “Menumbuhkan Growth Mindset bagi Pendidik dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajar,” kegiatan ini mengajak guru memahami kembali apa arti belajar sepanjang hayat.
Selama pelatihan yang diikuti oleh 75 guru SMP dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bengkalis, para peserta diajak merenungkan konsep growth mindset — istilah yang dipopulerkan oleh Carol Dweck dari Stanford University. Intinya sederhana namun mendalam: kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha, strategi yang tepat, dan dukungan lingkungan yang positif.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 91,4% peserta menyatakan pelatihan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan profesionalisme mereka. Lebih dari 90% menilai fasilitator (Prof. Dr. Firdaus L.N., M.Si., CETP®) menyampaikan materi dengan inspiratif, dan 84,3% guru merasa termotivasi menerapkan growth mindset di kelas. Hampir seluruh peserta sepakat bahwa pelatihan ini mendorong perubahan cara pandang dan perilaku guru terhadap pembelajaran.
“Pelatihan ini membuka pola pikir saya bahwa setiap siswa bisa berkembang jika diberi kesempatan,” tulis salah satu peserta dalam survei.
Kegiatan ini juga menghadirkan suasana belajar yang aktif dan reflektif. Guru-guru diajak mengidentifikasi perilaku yang mencerminkan fixed mindset, lalu mengubahnya menjadi perilaku growth mindset, seperti memberi umpan balik positif, mendorong usaha, dan merayakan proses belajar.
Banyak peserta menyebut bagian studi kasus dan refleksi diri sebagai sesi paling berkesan. Mereka merasa pelatihan ini bukan hanya “mengajar” tetapi “menyentuh.”
“Saya menyadari bahwa perubahan cara berpikir guru adalah kunci menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa,” ungkap seorang guru.
Selain memberikan motivasi, pelatihan ini juga menumbuhkan kepercayaan diri guru. Hasil survei menunjukkan 64,3% peserta merasa lebih siap menghadapi siswa yang mengalami kesulitan belajar, dan 73,9% menyatakan siap mengajak rekan sejawat menerapkan growth mindset di sekolah.
Pelatihan ini juga mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari kebijakan besar, tetapi dari kesadaran kecil di ruang kelas. Beberapa guru menyebut mereka akan mulai menggunakan kalimat “belum bisa” alih-alih “tidak bisa,” memberi apresiasi pada proses belajar siswa, dan menciptakan lingkungan kelas yang mendukung kegigihan.
Mayoritas peserta berharap pelatihan seperti ini dilaksanakan secara berkelanjutan. Beberapa masukan mencakup perpanjangan waktu, penambahan sesi praktik, dan penyediaan media bantu seperti papan tulis. Saran ini mencerminkan semangat guru Bengkalis yang ingin terus belajar.
Sebagaimana disampaikan oleh perwakilan Dinas Pendidikan Bengkalis: “Guru dengan growth mindset tidak takut gagal, tidak berhenti belajar, dan tidak berhenti mencoba. Inilah pondasi yang akan melahirkan pendidikan berkualitas.”
Growth mindset bukan sekadar teori psikologi pendidikan, tetapi cara pandang hidup. Ketika nilai ini ditanamkan oleh guru di sekolah, dampaknya meluas: siswa tumbuh lebih percaya diri, rekan sejawat saling menguatkan, dan budaya belajar kolektif terbentuk.
Dari Bengkalis, semangat itu kini menyebar — menjadi inspirasi bahwa transformasi pendidikan dimulai dari minda yang terbuka untuk belajar.
Artikel ini ditulis berdasarkan hasil evaluasi kegiatan “Pelatihan Transformasi Minda Guru SMP se-Kabupaten Bengkalis Tahun 2025” yang melibatkan 70 responden dari berbagai SMP di Kabupaten Bengkalis. Semua data diambil dari hasil survei dan refleksi peserta melalui Google Form (7 Oktober 2025).***










