Beda Pulau, Beda Iman, Satu Kampus: Ini Alasan Mahasiswa Baru Memilih UMP
Sejumlah mahasiswi baru UMP yang mengikuti Ospek 2026.
RIAUEDUKASI.COM, PURWOKERTO — Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menjadi pilihan calon mahasiswa dari berbagai pulau dan keyakinan. Ini menunjukkan daya tariknya sebagai institusi pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas unggul.
Mahasiswa baru asal Pulau Jawa tentu tetap dominan pada tahun akademis kali ini. Di sisi lain, UMP masih menjadi destinasi favorit bagi mahasiswa dari berbagai penjuru luar Pulau Jawa hingga lintas keyakinan.
Keberagaman dan nilai toleransi di kampus ini tercermin nyata dari kisah para mahasiswa baru yang mantap merantau dan memilih UMP sebagai tempat menimba ilmu.
Seperti dikutip dari jateng.tribunnews.com, Sabtu (5/9/2026), salah satunya adalah Andi Niswah Azilah, mahasiswi asal Kalimantan Timur yang menempuh Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi.
Niswah mengungkapkan, ini adalah pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Alasan utamanya memilih UMP adalah keberadaan program studi anestesiologi yang belum tersedia di daerah asalnya.
"Saya memilih UMP karena ada anestesiologinya," ungkap Niswah.
Ia mengaku sangat gembira pada kesan pertamanya di kampus karena bisa berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia hingga mahasiswa internasional.
"First impression saya, saya senang bisa bertemu teman dari berbagai daerah, dan ternyata di sini ada dari internasional juga,” ungkapnya saat ditemui di Purwokerto, Jumat (4/9/2026).
“Pesan saya buat teman-teman, tetap semangat dan semoga kita bisa lulus dengan tepat waktu, mengikuti organisasi yang ada di UMP, dan membahagiakan orang tua," lanjutnya.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Olivia Rambu Leki, mahasiswi non-Muslim asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di prodi yang sama. Olivia menuturkan, pilihannya jatuh pada UMP karena program studi D4 Keperawatan Anestesiologi tergolong langka dan memiliki prospek kerja yang cerah.
Sebagai mahasiswi non-Muslim, Olivia mengaku sempat menyimpan kekhawatiran dan rasa ragu terkait adaptasi di lingkungan kampus berbasis Islam.
"Awal masuk UMP tentu membawa rasa ragu dan sedikit cemas terkait bagaimana saya akan beradaptasi dengan lingkungan kampus UMP yang berbasis Muslim,” ujarnya.
“Namun, kekhawatiran itu seiring berjalannya waktu, selama saya memulai Ospek, saya merasakan adanya kebersamaan dan toleransi yang sangat bagus," jelas Olivia.
Ia menganggap masa perkuliahannya di UMP sebagai pengalaman hidup yang sangat berharga untuk mempelajari toleransi dan saling menghargai.
Olivia juga berharap UMP terus mempertahankan budaya dan kualitas pendidikannya yang unggul. Sehingga senantiasa menjadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang.
Reputasi Baik UMP
Sementara itu, Anjelina Halawa, mahasiswi asal Sumatra Utara yang akrab disapa Angel menyatakan, ia memilih merantau ke UMP karena UMP dikenal sebagai satu perguruan tinggi swasta bereputasi baik dan berakreditasi unggul.
Angel merasa sangat gembira berkuliah di UMP lantaran dikelilingi oleh lingkungan fisik maupun sosial yang mendukung.
"Kesan saya di UMP itu lingkungannya nyaman, teman-temannya suportif, dan juga memiliki toleransi yang tinggi. Saya sangat senang karena di sini saya mendapatkan teman-teman yang baik," ujar Angel.
Ia menaruh harapan agar UMP terus menjadi kampus yang unggul dalam prestasi dan mampu mencetak lulusan yang berakhlak serta berdaya saing global.
Kisah lain datang dari Aurell Chintya Purba, mahasiswi asal Pekanbaru, Riau. Dia menempuh pendidikan di Prodi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan.
Aurell menjelaskan, keputusannya berkuliah di UMP didasari oleh rekomendasi kakaknya serta keberadaan Prodi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan yang sudah terakreditasi unggul dan masih jarang ditemui di kampus lain.
Aurell mengaku sempat terkejut ketika pertama kali tiba karena mendapati fasilitas dan gedung-gedung kampus UMP yang terbilang megah.
Sebagai pemeluk agama Kristen di kampus berbasis Muhammadiyah, Aurell merasa sangat terbantu dengan keterbukaan dan keramahan lingkungan kampus sejak hari pertama.
"Kesan di sini orangnya toleransinya tinggi. Saya kan dari latar belakang Kristen, di sini Muhammadiyah, jadi toleransinya tinggi banget. Kayak saya tetap ditemenin, diajak main juga, dicakapin duluan," kenang Aurell.
Ia pun menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai toleransi di lingkungan kampus.
"Paling utama itu toleransi sih nomor satu, karena kan kita berbeda-beda dari suku mana aja yang datang, dari beragam agama," pungkasnya.
Kisah dari para mahasiswa baru ini makin mempertegas komitmen UMP dalam menciptakan lingkungan akademik yang ramah, aman, dan nyaman bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang suku, ras, maupun agama.***










