Guru Mapel Mulok BMR Ajarkan Kearifan Lokal di Sekolah
MERANTI (DPPR) – Perhatian akan diajakkannya materi muatan lokal (Mulok) mata pelajaran Budaya Melayu Riau (BMR) di satuan pendidikan, terutama SMA dan SMK terus menjadi perhatian Dewan Pendidikan Provinsi Riau (DPPR). Dalam setiap kunjungan daerah atau monev, diskusi dan merangkum berbagai persoalan tentang Mulok BMR terus dilakukan. Terutama, upaya para guru dalam mengajarkan kearifan lokal setempat.
Hal ini disampaikan Kepsek SMAN 1 Tebing Tinggi Poyadi SPd MSi, Kepsek SMAN 2 Tebing Tinggi Haryu Ningsih SPd, Kepsek SMKN 1 Tebing Tinggi Drs Zamzuri MSi, Kepsek SMA Patria Dharma Jumadi SKom MSi. Diketahui masing-msing sekolah menyiapkan 3-5 guru Mulok BMR, walaupun masih dirangkap dengan guru kelas bidang studi lainnya.
Begitu pula penyampaian oleh guru-guru yang mengajarkan Mulok BMR tersebut. Salah seorang guru di SMAN 1 Tebing Tinggi Meranti Yelni Susanti SPd mengatakan secara umum materi-materi mulok ini memang sudah ada di buku ajar yang diterbitkan Pemprov Riau dan LAMR. Namun di daerah, tetap mengajarkan kekhasan daerah masing-masing.
‘’Sebenar mengajar Mulok BMR ini tidak sulit, karena mengajarkan keseharian tentang tradisi, adat istiadat dan kebiasaaan yang terjadi di tengah masyarakat. Walaupun saya guru Bahasa Inggris, tapi karena saya orang Melayu, jadi tidak sudah dan sudah terbiasa. Walaupun dalam buku mapel yang ada itu, hanya gambaran secara umum. Tapi kami harus mencari dan mengajarkan kearifan di Kabupaten Meranti ini untuk diajarkan ke siswa,’’ katanya.
Ditanyai tentang kendala yang dirasakan, alumni Unri ini menyebut kendala utamanya adalah belum adanya buku Mulok BMR yang dicetak sesuai dengan Kurikukum Merdeka. ‘’Yang ada saat ini masih buku K-13, sementara tahun ini sudah wajib menggunakan pola Kurikulum Merdeka. Tema-tema kearifan lokal tetap bisa kami ajarkan ke siswa, cuma ya hanya mendengar saja, mereka tidak bisa membaca, karena buku cetaknya belum ada,’’ tambahnya lagi.
Begitu pua dengan guru Mulok BMR di SMAN 2 Tebing Tingg Zan Nuraini SPd yang merupakan alumni UIN Susqa Riau ini. Dia menyebut, meski sebagai guru Matematika, namun dia bisa mengajarkan mapel Mulok BMR di sekolah dengan 21 kelas ini. Sejauh ini Dinas Pendidikan Rau sudah melakukan beberapa kali pelatihan tentang materi ajar ini.
‘’Kami sudah diberikan materi seputar penyusunan perangkat, silabus, dan tata cara untuk pembelajaran kearifan lokal. Termasuk 10 capaian pembelajaran. Cuma saja materi-materinya masih sebatas soft copy dan belum ada dalam bentuk buku cetak. Jadi ya, pandai-pandailah mengajarkan ke siswa,’’ ungkapnya.
Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di SMKN 1 Tebing Tinggi. Guru Mulok BMR Zuraida SE mengungkapkan sejauh ini bahan ajar yang ada di K-13, dioptimalkan dalam proses belajar. Karena Kurikulum Merdeka wajib untuk dilaksanakan, maka dirinya membuat praktek-praktek pembelajaran dalam kearifan lokal. Misalnya anak didik diminta untuk membuat makanan khas Meranti, menemui para tokoh-tokoh masyarakat dan adat untuk menggali sejarah daerah.
‘’Misalnya dengan membuat praktek makanan daerah dari sagu, karena di daerah kami ini terkenal dengan makanan sagunya. Beragam jenis dan bentuk kita modifikasi dari praktek itu. Begitu pula tentang sejaranh dan adat istiadat di Selatpanjang ini. Pendeknya tak ada masalah. Tapi memang ke depan kami memerlukan buku Mulok BMR Kurikulum Merdeka, sebab sekarang sudah wajib dengan pola itu,’’ jelasnya. (FS)










